
Pada pertandingan pertama final piala Suzuki AFF Cup 2010 di stadium Bukit Jalil, Malaysia, pendukung tim tuan rumah kedapatan menggunakan sinar laser berwarna hijau untuk mengganggu konsentrasi permainan para pemain timnas Indonesia.
Penggunaan laser ini mengundang protes berbagai kalangan, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, banyak kecaman ditujukan pada Malaysia.
Sebenarnya, apa itu laser hijau?
Di pasaran, saat ini ada 5 jenis laser yang umum digunakan sebagai pointer ketika melakukan presentasi atau hingga untuk aplikasi lain seperti cahaya hiasan di acara pertunjukan. Kelimanya adalah laser merah, kuning, hijau, biru, ungu.
Laser merah adalah laser yang paling umum digunakan untuk presentasi dan dipancarkan dengan cahaya berpanjang gelombang 671 nanometer. Laser kuning, dipancarkan pada 593,5 nanometer memiliki output antara 1mW (miliwatt) hingga sekitar 10mW. Proses pembuatan laser kuning cukup rumit dan membutuhkan stabilizer suhu dan pendinginan. Ini menyulitkan laser kuning dibuat dalam alat berukuran kecil.
Sama seperti laser kuning, pembuatan laser hijau juga lebih kompleks dibanding laser merah. Cahaya hijau yang dihasilkan merupakan hasil dari proses tidak langsung yang diawali dengan pembuatan sinar dengan daya besar (umumnya antara 100 sampai 300 mW). Sinar laser dengan panjang gelombang 532 nanometer bisa dibuat dengan daya output yang berbeda. Namun umumnya, laser hijau dengan output 5 mW aman digunakan.
Laser biru memiliki konstruksi serupa dengan laser hijau. Ada dua diode yang digunakan untuk memproduksinya yakni yang mampu menghasilkan laser 450 nanometer dan 405 nanometer. Versi 450 nanometer lebih terang karena panjang gelombangnya lebih dekat dengan puncak sensitivitas mata manusia.
Laser ungu memancarkan cahaya berpanjang gelombang 405 nanometer, dekat dengan ultraviolet yang berada di batas kemampuan pengelihatan ekstrim manusia dan bisa menghasilkan nuansa warna biru. Laser ini umum digunakan pada perangkat Blu-ray.



0 komentar:
Posting Komentar